Anak BUMN PGN Disorot: Proyek Pagar Annex Batam Mangkrak, Material Mulai Hilang

banner 468x60

https://baitcerita.com, Batam — Proyek Pekerjaan Struktur Pagar dan Pembuatan Pos Sekuriti untuk Pemasangan Pagar Pembatas Annex Batam milik PT Pertamina Trans Kontinental kini menuai sorotan tajam publik. Proyek yang dikelola oleh anak perusahaan BUMN, PT Permata Graha Nusantara (PERMATA), dan menunjuk PT Surya Cipta LED sebagai pelaksana pekerjaan tersebut mangkrak serta menyisakan tanda tanya besar terkait pertanggungjawaban pengerjaannya. Selasa (8/9/26)

Padahal, melalui Surat Perintah Kerja (SPK) 041801.PK/MAS-OPR/LG.01.01/2025 dengan sifat segera, kesepakatan awal menetapkan batas akhir tenggat waktu penyelesaian pekerjaan hingga 26 Februari 2026, di mana proyek tersebut di tandatangi kesepakatan kerjanya sejak 12 Desember 2025. Namun, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang berbanding terbalik dari target operasional.

banner 336x280

Menurut sumber tepercaya media ini, para pekerja sebenarnya telah menyelesaikan sekitar 40 persen dari total volume proyek. Namun, masalah penetapan titik koordinat sempat menghentikan seluruh aktivitas pekerjaan di lokasi.

“Pekerjaan memang sempat berhenti sementara karena terkendala masalah titik koordinat. Namun, setelah BP Batam menyelesaikan dan mengesahkan koordinat tersebut, pekerjaan justru tidak berlanjut dan menggantung tanpa kejelasan hingga sekarang,” ungkap sumber tersebut.

Namun meskipun BP Batam telah merampungkan dan mengesahkan penetapan titik koordinat tersebut, pelaksana proyek hingga saat ini belum juga melanjutkan aktivitas pembangunan di lokasi.

Akibat ketiadaan aktivitas pekerjaan dan pengamanan yang minim, berbagai material bangunan di lokasi seperti tumpukan besi konstruksi mulai lenyap satu per satu.

Tim media berupaya meminta konfirmasi langsung melalui pesan singkat WhatsApp pada Jumat (28/8/26) kepada pihak pengelola guna menuntut kejelasan transparansi publik. Namun, Anas As Syifa selaku Kepala Divisi Engineering & Construction PGN Mas serta M.Khaled sebagai manager proyek memilih bungkam seribu bahasa dan mengabaikan pertanyaan wartawan terkait kepastian kelanjutan proyek tersebut.

Sikap tertutup dari manajemen anak perusahaan BUMN ini memicu kekecewaan publik. Ketiadaan pengawasan tidak hanya merugikan keberlangsungan infrastruktur proyek, tetapi juga membiarkan potensi kerugian negara akibat hilangnya material-material bernilai tinggi di lapangan, serta kerugian pihak-pihak yang terlibat dalam proyek tersebut.

Publik kini menanti ketegasan serta bentuk tanggung jawab nyata dari pimpinan BUMN terkait atas pembiaran proyek yang terbengkalai ini. (Red).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *